<$BlogRSDURL$>

Binarnajla

menari di pelangi aksara



Lilypie Baby Ticker

Friday, November 12, 2004

MAAFIN NAJLA YAAA.... 



Assalaamualaikum
Oom, Tante, Abang, Kaka, Dede semua
Yang suka main ke kebun Binarnajla
Najla mau ngucapin selamat lebaran
Najla mohon maaf lahir dan batin
Semoga amal kita semua di bulan puasa diterima oleh Alloh
Amien..

Najla


*gambar dari sini

|

Thursday, November 11, 2004

KE KOMIDI PUTER 



Kemarin siang di Sawangan ujannga gedeee banget. Syukur sih nggak lama ujannya berhenti. Kalau hujannya nggak berhenti-berhenti ke Komidi Puter nya bisa batal lagi. Seperti kemarin, karena gerimis Ummi sama Najla gak jadi ke Komidi Puter. Oh ya... kalau lebaran sudah deket di tanah lapang depan kompleks suka mangkal komidi putar. Ada karusel, ada bianglala kayak yang di dufan, ada yang mutar-mutar - Najla gak tahu namanya, dan buaaanyak yang jualan. Ada jualan baju, sendal, sepatu, mainan, gelas juga makanan. Macam-macam deh.

Komidi puter ini kalau siang tutup. Bukanya cuma sore sampai malam aja. Waktu mau berangkat Najla telpon Abhi dulu. Minta ijin mau pergi ke Komidi Puter.
"Haloo...nTe, ada Abhi Rahman?..." Hihihi Najla mencet nomer sendiri sama bicara sendiri. Ummi nemanin di sebelah.
"Sebentar yaa.. disambungin..." Kata Tante Vinta yang nerima telpon Najla.
"Assalaamualaikum..." Wah suara Abhi... Hihihi... ngebass sekali kayak Oom yang di iklan molto itu lho.
"Abhi! Najla mau ke komidi puter sama ummi..." Najla langsung nyerocos aja. Abhi bilang iya..iya... hati...hati... Abhi ini masih sulit nangkap omongan Najla. Abis Najla juga sih, kalau omong cepet sekali.

Setelah ijin sama Abhi, Najla siap-siap pergi sama Ummi. Ke depan kompleksnya lumayan jauh. Tapi Najla sudah biasa jalan kaki sama Ummi. Sebab kalau sudah jam empat nggak ada becak. Gantian sama pak Ojek. Sampai di sana Najla sama Ummi ke tempat jualan baju. Mau cariin baju buat adik Raihan sama dede Ayu. Ummi milih-milih baju. Cari yang bagus. Waktu udah dapat ditunjukin ke Najla.
"Yang bagus yang mana de?, yang hijau? orens apa yang merah!?" Tanya Ummi.
"Yang merah aja Ummi, bagus!". Ummi ambil baju yang merah untuk adik Raihan. Buat dede Ayu dibelikan warna pink. Soalnya dede Ayu kan perempuan.

Setelah beli bajunya selesai. Najla lihat-lihat karusel. Kayaknya asyik yah naik karusel. Sama Ummi ditawari.
"Najla mau naik?...". Najla masih takut, jadi geleng kepala aja. Karena udah sore banget, dan Abhi sebentar lagi sampai, Najla sama Ummi pulang. Ummi sama Najla dapat oleh-oleh lho. Sandal Najla sama Ummi belok semua kena tanah merah yang lengket banget. Jadi sandalnya rasanya tebel banget gitu. Abis komidi puternya main di tanah kosong.

|

Wednesday, November 10, 2004

LHO... UANGNYA KOK... 



Beberapa hari sekali, kalau persediaan habis, aku membeli roti. Ada banyak pedagang roti keliling yang lewat di depan rumah. Pertama pindah ke kompleks ini, aku langganan roti Piki. Lucu juga mereknya. Piki. Pendek dan mudah diingat. Tapi sayang, beberapa bulan kemudian si mas penjualnya tak lagi kelihatan lewat. Ternyata ia tidak lagi berjualan roti. Tidak tahu berganti dagang apa. Padahal aku sudah cukup senang berlangganan roti padanya. Selain rotinya enak tidak membal kebanyakan pengembang, si mas penjualnya juga santun lagi sopan.

Karena si mas sudah tak ada, aku cari roti lain. Akhirnya ketemu roti merek Sheila. Mirip nama grup band dari Jogja. Mungkin memberi namanya terilham dari band dengan vokalis mas Duta itu. Atau bisa jadi Sheila adalah nama anak si empunya. Yang jelas rotinya tak beda mutunya dari si Piki dulu. Dan yang bikin senang si mas penjualnya juga santun sekali. Orangnya masih muda, tapi sudah menikah.

Suatu waktu, ada dua tiga hari ia tak lewat. Padahal roti di rumah sudah tandas. Waktu dia jualan lagi, aku tanya, kemana kok tidak jualan. Istri saya sakit Bu, jawabnya pendek. Tidak ada yang menjaga bayi kami. Anak kami baru usianya empat bulan. Deg... jawabannya terasa menyentak di dada. Aku tak bisa berkata apa-apa.

Beberapa waktu kemudian ia pindah juragan. Tidak lagi membonceng si Sheila. Tapi ia membawa Piki. Piki, roti yang ku langgani pertama kali. Antara sheila dan piki, bagi Najla tak ada beda. Keduanya ia suka. Tapi roti yang lain, belum tentu. Sepertinya lidahnya cukup peka merasai makanan. Mungkinkah ini semacam kemampuan turunan.

Najla, sudah mulai ikut belanja, kalau tukang sayur atau roti datang. Awalnya membantu membawakan belanjaan. Lalu meningkat jadi kasir, membayar belanjaan. Waktu pagi-pagi si om tukang roti datang, aku mengorder dari dalam rumah. Soalnya lagi sibuk mengerjakan sesuatu. Aku panggil Najla. Aku minta menyerahkan uangnya dan membawa rotinya. Segera ia berlari ke pagar depan. Lalu kembali membawa roti, sesuai yang ku pesan.

Waktu sore hari, saat duduk menanti bedug, abhi melihat di saku celana Najla ada beberapa lembar ribuan.
"Lho Najla kok bawa uang, darimana?" Tanya abhi.
Najla diam saja, ia sulit untuk menjelaskan. Aku mendekatinya. Aku lihat isi sakunya. Masya Alloh, ini kan uang untuk beli roti tadi?
"Kok tidak diberikan sama oom nya?" Najla tetap bergeming. Sorot matanya bening, khas kanak-kanak. Tentu dia masih sulit mengerti kondisi seperti ini. Sementara rasa bersalah pada oom roti menjalar di dalam hati.
"Ya... sudah, Ummi besok bayar sama oom rotinya" kata Abhi.

Besok pagi waktu oom roti lewat aku panggil. Aku mohon maaf kalau uang pembeliannya tidak diberikan sama Najla. Ia menjawab.
"Memang uangnya tidak saya ambil Bu.... Itu rotinya buat Najla. Kan Ibu baik sekali sama saya."
Deg... hatiku kembali tersentak.

|

[naik?]