<$BlogRSDURL$>

Binarnajla

menari di pelangi aksara



Lilypie Baby Ticker

Thursday, November 13, 2003

anak saya dua bu... 

derum mesin menggerung. lalu tiba-tiba terdengar bunyi ban mendecit seiring dengan diremnya siangkot secara mendadak. moncong kirinya hampir mencium pantat kanan angkot didepan. sementara pipi kanannya - bila saja sisopir berkaus triple ex el tidak sigap mengerem dan memutar kemudi kekiri - bisa jadi berciuman dengan angkot lain dari arah berlawanan.

"hati-hati bang!!" seru ibu di depanku. sedang anaknya yang juga bertubuh subur asyik duduk dipojok menikmati lagu dari walkman kecil yang baru dibelinya di pasar malam komidi putar.
"jangan kuatir bu" sergah sopir angkot.
"ibu kan yang dibelakang, saya yang didepan" kata sopir menjelaskan secara tak langsung bahwa dialah yang beresiko lebih besar bila tabrakan. si ibu tak menanggapi, mungkin rasa kagetnya belum sepenuhnya pulih.
"anak saya dua bu!!!"...seru si sopir lagi dengan nada bersemangat.

sering kita dengar, orang menghubungkan antara jumlah anaknya dengan tindakannya di jalan yang sangat beresiko terhadap keselamatan orang lain. seakan-akan dengan memiliki anak apalagi dengan jumlah yang cukup berbilang, menjadi jaminan bahwa dia tidak akan sembarangan berperilaku yang berpotensi mencelakakan. karena selalu ingat dengan kelangsungan kehidupan anaknya. mungkin alur berpikirnya, kalau saya celaka siapa yang mencukupi kebutuhan anak istri saya. jadi saya tidak akan sembrono karena saya tidak mau anak istri saya terlantar. kalau logika ini yang dipakai, kasihan mereka yang masih lajang kan....

|

Wednesday, November 12, 2003

bang ajis... 

alhamdulillah, karena kemurahanNya lah kami diberi tempat untuk berteduh serta menunaikan kewajiban-kewajiban kemakhlukan kami. dipinggir depok - maksudnya dipinggir wilayah kodya depok, benar-benar dipinggir-gir karena tapal batas alam kabupaten bogor sepelemparan batu dari rumah kami - dalam sebuah kompleks perumahan yang tenteram dengan deretan rumah-rumah mungil twenty one yang sebagian besar sudah diubah sana-sini. di sepanjang jalan depan rumah kami yang tak lebih dari dua tombak panjangnya, banyak anak kecil yang menjadi teman najla. salah satunya adalah bang ajis. demikian najla memanggilnya. entah siapa nama lengkapnya. rumahnya tepat didepan rumah kami. pintu pagarnya pun lurus berseberangan dengan pintu pagar kami. usia ajis sekitar tiga tahun. rajin menyapa atau bertanya kepada orang dewasa yang ia kenal. kerap berdiri didepan pintu pagar kami dan selalu bertanya lebih dahulu ajis boleh masuk gak tante tanyanya suatu ketika kepada ummi najla. atau om mau kemana tanyanya padaku saat aku terlihatnya mau pergi kerja. pernah kutemui ia asik menyerok got didepan rumah tetangga dengan serok ikan ditangan. lain waktu ia asyik terlihat bermain sendiri. anak yang punya kemandirian bagus dan interaksi komunikasi dengan percaya diri cukup tinggi ini, pernah kulihat menangis - lebih tepatnya melolong-lolong - diteras rumahnya disamping ibunya yang tampak tenang lebih memilih melanjutkan memilah sayuran. kadang diwaktu-waktu tertentu kudengar ia dihardik sebagai anak nakal oleh ibunya, kakak perempuannya dan abangnya. sepertinya ia telah distigma sebagai anak nakal dan pembawa masalah. juga oleh sebagian tetangga kami. akibat yang tampak pada anak ini adalah lebih suka bermain diluar rumah, di jalan depan rumah kami. dan Alloh Maha Adil dalam usia yang demikian muda ia dianugerahi kemampuan interaksi dan komunikasi yang sangat baik. salah satu komponen eq yang sangat penting. sampai kini kami baru mampu berdoa, semoga ia tumbuh menjadi manusia yang kehadirannya menyelesaikan masalah. masalah dirinya sendiri dan lingkungannya. bukan pembawa masalah seperti stigma mereka yang belum mampu menyelami arti kehadirannya sebagai manusia. sama seperti diri mereka sendiri.

|

teyus...teyus...teyus... 

tangan kanan mungilnya lurus ke depan, jari jemarinya bergerak rampak melambai. dari mulutnya keluar suara: teyus...teyus...teyus...sana...sana... berulang lagi seperti itu saat ada mobil datang ke tempat parkir. aku sempat mengernyitkan kening. darimana dan kapan anak ini belajar atau tepatnya meniru. oh ya...dua malam lalu, saat aku mengajak dia bermain dekat kawanku yang sedang bertugas menata kendaraan saat malam jumatan.

|

Thursday, November 06, 2003

samnun... 

tokoh ini kutemui di buku pikiran-pikiran setengah gila. seorang tokoh yang pada jamannya oleh lingkungan sekitarnya dicap gila. kegilaan akibat tidak turut dalam arus mainstream masyarakat. bersikap dan berlaku yang berbeda, eksentrik. samnun pernah bercerita, "selama tujuh hari aku terbuang di pintu bani syaibah dalam keadaan bingung. tiba-tiba ada suara berkata kepadaku di akhir malam, 'barang siapa dari dunia mengambil apa yang melebihi kebutuhannya, Alloh membutakan dua mata hatinya'."

|

[naik?]